Tuesday, 28 June 2016

What’s Inside the Queen’s Handbags? Part 4 End

Tas ratu dibuat merk inggris Launer dan diberitakan memiliki 200 buah


Sejumlah topi Ratu baru-baru ini menjadi inspirasi kue buatan Marks dan Spencer untuk memperingati ulang tahun ke-90 nya

Ada aturan yang selalu ditaati, hak sepatu dua inci, rok di bawah lutut, pinggiran rok yang diperberat untuk menghindari pengaruh angin.

Topi dengan pinggiran kecil.
Ratu jarang sekali terlihat tidak memakai penutup kepala, apakah itu scarf , topi atau tiara, kecuali jika dia di dalam ruangan. Warnanya terang, sebagian orang mengatakan warna yang sulit, seperti pastel, kuning jeruk atau koral, siluet setelan.
 

What’s Inside the Queen’s Handbags? Part 3

Pakaian Ratu yang tidak berubah mengirimkan pesan tentang sifatnya dan juga kelas sosialnya


Bahkan terdapat semacam petualangan dalam sejumlah gayanya, menurut de Guitaut,” Sebagian topinya dari tahun 50-an dan 60-an benar-benar menantang dan eksperimental.”

Di tahun 50-an, Ratu terus memperlihatkan karya Hardy Amies, yang de Guitaut katakan keanggunan yang terkontrol, dan rancangan Hartnell, yang lebih menarik perhatian dan flamboyan. Hartnell yang membuat pakaian sehari-hari mewah Ratu dengan pinggang ramping dan rok penuh.

Di tahun 1960, pada pernikahan saudaranya, Putri Margaret dia memperlihatkan gaun taffeta sutra biru dengan jaket bolero dan sarung tangan. Topi jaring dihiasi dua mawar biru, mewakili nama kedua Margaret.



What’s Inside the Queen’s Handbags? Part 2


Pakaian ratu yang tidak berubah membawa pesan tidak hanya tentang sifatnya tetapi juga kelas sosialnya, pada kalangan tertentu, perubahan, hal baru, trend menunjukkan mentalitas arriviste.

Kode ‘U and non-U’ dikaji Nancy Mitford pada tahun 50-an, mengacu kepada sejumlah isyarat rumit masyarakat Inggris yang memisahkan kelas atas dengan bukan kelas atas. Meskipun kebanyakan kode ini terasa kuno dan sombong, pandangan kementerengan bukanlah ‘hal yang penting’ tetap hidup di kalangan aristocrat. Pesan cara berpakaian pedesaan yang sempurna adalah bagian penting kerajaan.

“Ratu selalu tidak berlebihan. Yang menarik adalah ke-Inggris-annya, keanggunan klasik yang kekal” kata Caroline de Guitaut, curator pemeran Fashioning a Reign: 90 Years of Style from the Queen’s Wardrobe

“Pameran ini adalah mengenai kenangan” kata de Guitaut kepada BBC Culture. “Pakaian ini ada sebagian besar abad ke-20 dan memasuki abad 21, lewat berbagai acara besar yang merupakan bagian dari kehidupan Ratu dan kita”


What’s Inside the Queen’s Handbags? part 1




Di tengah perayaan ulang tahun Ratu Inggris, Elizabeth II yang ke 90, Lindsay Baker mengkaji pakaian wanita yang paling banyak difoto dalam sejarah ini.

Ratu tidak pernah tunduk pada fashion. Seperti dikatakan perancang mode kerajaan Sir Norman Hartnell dengan tegas kepada New York Times di tahun 1953, “Ratu dan Ibu Suri tidak ingin menjadi penentu fashion. Itu adalah pekerjaan orang-orang yang melakukan hal yang tidak penting”

Dengan kata lain, Ratu memegang mode dengan tas. Gayanya bermula saat dia mulai bertahta dan tidak pernah bergeming, jadi tidak ada corak 70-an atau hiasan tambahan 80-an. 


Gaya ratu tetap dan terkait dengan jati dirinya, dan meskipun sepertinya tidak banyak yang dilakukan, hal ini menghasilkan pesan yang diinginkan. Kekuasaan yang tidak berubah, taktis dan diplomasi, dan jika diperlukan, keanggunan yang mewah.

Dalam bukunya Luella’s Guide To English Style, Luella Bartley mencatat aturan berpakaian kelas atas, “Satupun tidak terlihat baru, korban fashion akan kedinginan, kalau Anda berusaha sama saja dengan telah kalah, tradisi yang paling penting, tempatnya adalah di luar kota.” Seragam ratu memperlihatkan hal-hal ini. Itu adalah gayanya dan dia terus mengenakannya, dan hal ini banyak artinya. 

Immigran di Inggris 'tak nyaman' pasca Brexit



Sejumlah kelompok imigran mengkhawatirkan keselamatan mereka setelah Inggris memutuskan keluar dari Uni Eropa, antara lain didorong oleh isu imigran.

Selisih suara antara kubu yang menginginkan Inggris tetap bergabung dalam Uni Eropa dan kubu yang menginginkan keluar dari blok itu dalam referendum yang digelar pada Kamis (23/06) kurang dari 5%.

Fakta itu, kata peneliti pada Lembaga Perubahan Sosial, Universitas Manchester, Dr Gindo Tampubulon, menimbulkan perpecahan semakin terasa antara kedua kubu usai referendum.
"Jadi banyak juga yang tak begitu senang, kecewa dan khawatir. Di tempat-tempat sini, dengan kubu ke luar yang menang dalam referendum, sebagian dengan alasan imigrasi, membuat orang-orang imigran merasa tak begitu aman.


"Dan ada beberapa insiden yang berbau rasial, seperti kita baca di koran, dan di sekitar sini juga, mulai ada," katanya dalam wawancara dengan wartawan BBC Indonesia, Rohmatin Bonasir pada Senin (27/06).
Di antara insiden yang berbau rasis adalah dugaan adanya grafiti dan kartu yang berbunyi "Tak ada lagi kutu Polandia" yang dikirim ke rumah-rumah.

Dampak berantai eknomi Inggris keluar dari Eropa



Dalam waktu dekat Ingggris ditaksir akan mengalami efek domino di bidang ekonomi skala besar akibat keluar dari Uni Eropa, yang selama ini memungkinkan pergerakan bebas barang dan manusia.

Dampak buruk ekonomi itu tidak hanya dalam kaitan antara Inggris dan 27 negara anggota Uni Eropa, tetapi juga antara Inggris dengan Negara-negara di luar Eropa.

Hal itu disampaikan oleh dosen senior SOAS, Universitas London, Dr ben Murtagh, yang fasih berbahasa Indonesia dari Departemen Asia Tenggara.

“Karena pasti ada banyak pusat perusahaan, pusat bank, dan lain sebagainya yang berada di Inggris karena Inggris berada dalam Uni Eropa. Kalau Inggris tidak lagi di dalam Uni Eropa, mungkin kantor pusat perusahaan, bank dan lain sebagainya akan pindah ke Negara-negara lain dan pasti itu masalah besar,” jelas Murthagh dalam wawancara dengan wartawan BBC Indonesia, Rohmatin Bonasir, Senin (27/06)

Brexit : Britain Exit

image by: Catholic Herald

Beberapa hari yang lalu, dunia digegerkan dengan ditandatangani nya referendum tentang keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa.
Banyak orang yang mendukung hal ini, banyak juga yang menentang hal ini, namun tidak sedikit yang tidak peduli dengan hal ini.
Seperti yang dikutip dari BBC, dengan adanya peristiwa ini, banyak imigran di Inggris yang merasa tidak aman tinggal di Inggris, namun hal ini akan segera diatasi oleh pemerintah setempat, karena sudah berbau rasisme. 

Berikut ulasan yang mungkin perlu kalian ketahui, agar sedikit melek dengan dunia politik dunia.

Inggris memilih untuk keluar dari Uni Eropa menyusul referendum dengan hasil 52% untuk berpisah dan 48% tetap bergabung.
Apakah keluarnya Inggris dari Uni Eropa setelah 43 tahun akan membuka jalan terpecahnya Britania Raya?
 
alis aquilae ♪ Blogger Template by Ipietoon Blogger Template